Causal Relationship KPI dalam SWOT BALANCED SCORECARD

Di dalam balanced scorecard dikenal dengan istilah hubungan sebab akibat (causal relationship). Setiap perspektif (Keuangan, costumer, proses bisnis, dan pembelajaran-pertumbuhan) mempunyai suatu sasaran strategik (strategic objective) yang mungkin jumlahnya lebih dari satu. Definisi dari sasaran strategik adalah keadaan atau kondisi yang akan diwujudkan di masa yang akan datang yang merupakan penjabaran dari tujuan perusahaan. Sasaran strategik untuk setiap perspektif harus dapat dijelaskan hubungan sebab akibatnya, sebagai contoh pertumbuhan Return on investmen (ROI) ditentukan oleh meningkatnya kualitas pelayanan kepada customer, pelayanan kepada customer bisa ditingkatkan karena perusahaan menerapkan teknologi informasi yang tepat guna. dan keberhasilan penerapan teknologi informasi didukung oleh kompetensi dan komitmen dari karyawan. Hubungan sebab akibat ini disebut terkait atau dapat disimpulkan bahwa semua sasaran strategik yang terjadi di perusahaan harus bisa dijelaskan. Sebagai contoh mengapa loyalitas customer menurun, mengapa produk perusahaan menurun, mengapa komitmen karyawan menurun dan sebagainya.

Dasar pemikiran bahwa setiap perspektif dapat diukur adalah adanya kenyakinan bahwa ‘if we can measure it, we can manage it, if we can manage it, we can achieve it’. Sasaran strategik yang sulit diukur seperti pada perspektif customer, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan dengan menggunakan balanced scorecard dapat secara mudah dibuat dan diimplementasikan.

Sebenarnya penyusunan Balanced Scorecard sangatlah mudah, yang penting kita dapat mengetahui tahap – tahap penyusunannya secara sistematis dan terukur. Insya Allah dalam waktu dekat akan terbit Buku SWOT BALANCED SCORECARD yang akan menjelaskan tahap – tahap penyusunan Balanced Scorecard tersebut secara mudah. Untuk memudahkan pembaca, diberikan juga banyak contoh kasus, sehingga dapat dipraktikkan oleh semua skala industri dari industri kecil, menengah sampai industri besar kelas dunia.

Contoh Kasus:
Apabila suatu perusahaan memperoleh rata – rata tingkat pertumbuhan penjualan sebesar 20% per tahun, maka seandainya saat ini total sales Rp 250 milyar, perusahaan ini akan memperoleh total sales pada lima tahun mendatang sebesar > Rp 622 milyar.

Selanjutnya, dengan menggunakan key performance indicator kinerja operasional kurang dari 74% (artinya perusahaan akan semakin efisien), akan memperoleh:
1. Cash rasio sebesar 36.1% (rasio ini sudah berada di atas standar yang sudah ditetapkan share holder yaitu ≥ 35%)
2. Current rasio sebesar 172.5% (rasio ini sudah berada di atas standar yang sudah ditetapkan share holder yaitu ≥125%)

Demikian pula dengan rasio total modal sendiri terhadap total asset yang diproyeksikan akan semakin membaik, hal ini terindikasi dari rasio total modal sendiri terhadap total asset, yaitu sebesar 39.4% (rasio ini sudah berada pada rentang nilai yang dipersyaratkan yaitu 30 – 40%).

Selain itu dari perspektif internal proses, nilai perputaran persediaan (inventory turn over) juga menunjukan rasio yang semakin kecil, yaitu pada tahun pertama sampai dengan tahun ke lima, rata – rata hanya sebesar 8 hari (nilai ITO ini berada di bawah nilai yang dipersyaratkan yaitu ≤ 60 hari. Jadi dengan menggunakan KPI sebagai pengendali kinerja, kita dapat memperoleh kinerja perusahaan sesuai dengan yang kita inginkan. Namun demikian, penetapan KPI harus hati – hati, karena penetapan KPI tidak muncul begitu saja. KPI harus disusun berdasarkan strategi dan program yang saling berkaitan dan terintegrasi.

Leave a comment

Filed under Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s